Strategi Perbankan Melayani Nasabah Milenial

Strategi Perbankan Melayani Nasabah Milenial

Berdasarkans sebuah laporan Banking Survey 2018, perusahaan riset PwC Indonesia menyebut terjadinya kenaikan transaksi digital di Indonesia dari angka 10% ke angka 35%. Data ini sedikit menggambarkan tantangan yang harus dihadapi industri perbankan saat ini. Mereka harus menghadapi dua jenis nasabah, yaitu nasabah konvensional dan nasabah digital. Tantangan semakin besar mengingat nasabah digital relatif lebih sulit dibanding nasabah konvensional.

Pasalnya mereka telah merasakan layanan digital yang telah dipatok oleh perusahaan digital terdepan di dunia. Namun Adam Judd (Senior VP F5 Networks untuk APCJ) meyakini setiap saha untuk memuaskan nasabah digital akan memberikan hasil sepadan. “Karena nasabah digital memiliki spending lebih besar dibanding nasabah konvensional, baik dari nilai transaksi atau pinjaman” tambah Adam.

Apalagi, pesaing terbesar industri perbankan saat ini sebenarnya bukan bank lain, melainkan perusahaan digital yang merilis layanan digital. “Di Hong Kong, industri perbankan harus bersaing dengan WeChat” ungkap Adam. Jika tidak mampu memberikan layanan terbaik bagi nasabah digital, industri perbankan praktis akan kalah bersaing. Adam pun memberi contoh beberapa bank yang saat ini sangat serius menggarap nasabah digital.

Contohnya DBS Bank, yang kini memiliki “bank digital” Digibank yang kini telah beroperasi di India dan Indonesia. Yang menarik dari Digibank adalah infrastrukturnya yang jauh berbeda dibanding DBS Bank. “Digibank memungkinkan nasabah login dengan biometric fingerprint” ungkap Adam menggambarkan perbedaan signifikan antara dua entitas tersebut.

Memanfaatkan Teknologi Cloud

Karena itu, pertanyaan besarnya kini lebih kepada bagaimana melayani nasabah digital dengan layanan prima sekaligus efisien. Untuk menjawab ini, Adam Judd menyarankan pemanfaatan teknologi cloud computing. Cloud computing memungkinkan perusahaan membangun modern apps yang menjawab kebutuhan nasabah digital, ungkap Adam.

Bagi industri perbankan, mengadopsi cloud sebenarnya memiliki dilema tersendiri mengingat regulasi yang melarang data nasabah disimpan di luar wilayah hukum Indonesia. Namun menurut Michael Quek (Vice President F5 Networks untuk ASEAN), dilema tersebut bisa diatasi dengan memisahkan mobile/web apps layer dengan database layer. Jadi mobile apps layer berada di cloud, sementara database layer tetap ada di onpremise ungkap Michael. Strategi ini membuat perusahaan memiliki keuntungan ganda: memanfaatkan kelebihan cloud yang elastis dengan tetap memiliki kontrol penuh terhadap data pelanggan. Seiring naiknya kebutuhan akan teknologi cloud, F5 Networks pun kini memiliki Big-IP edisi cloud.

Solusi Big-IP, yang dikenal kemampuannya dalam mengontrol network traffic, kini bisa digunakan perusahaan dalam bentuk opex (operational expenditure). Big-IP Cloud Edition memungkinkan pemanfaatan teknologi F5 secara optimal dan dapat berkembang sesuai kebutuhan bisnis Anda ungkap Adam. Adam berharap, solusi berbasis cloud dari F5 Networks bisa membantu industri perbankan Indonesia dalam memberikan pelayanan terbaik bagi nasabah digital.

Perbankan merupakan sektor keuangan yang sangat vital peranya. Nasabah menitipkan uangnya dari nominal ratusan ribu hingga triliun kepada bank. Oleh karena itu selain menggunakan teknologi cloud, perbankan juga harus menggunakan perangkat keamanan elektronik canggih agar tidak mudah kebobolan.

Teknologi canggih ini dapat bekerja dengan optimal bilamana dilengkapi pula dengan mesin genset untuk bank. Sehingga perangkat bisa bekerja selama sehari penuh dan menjaga keamanan bank tetap utuh. Ingin mendapatkan genset untuk bank dengan harga terjangkau ? Toko besar genset di area samarinda siap memberikan apa yang anda inginkan sekarang ini.