Lapindo Perpanjang Kontrak Ladang Migas

Lapindo Perpanjang Kontrak Ladang Migas – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperpanjang izin eksplorasi dan eksploitasi Blok Brantas, Jawa Timur, kepada Lapindo Brantas Incorporated. Langkah tersebut menjadi cara pemerintah menjaga kelangsungan produksi energi di wilayah tersebut. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi, Djoko Siswanto, memastikan pihaknya sudah memeriksa proposal yang diajukan Lapindo Brantas. “Kami minta mereka tetap berkomunikasi dengan pemerintah daerah agar kejadian yang lama tidak berulang,” kata Djoko di kantornya, kemarin.

Nama Lapindo Brantas dikenal karena proyek pengeborannya menyebabkan luapan lumpur panas yang menggenangi 16 desa di Sidoarjo pada Mei 2006. Perpanjangan kontrak Blok Brantas diajukan mengi ngat masa tenggatnya sudah dekat, yakni pada 22 April 2020. Izin perpanjangan dengan skema gross split atau bagi hasil kotor disetujui dan berlaku hingga 2040.

Adapun operasional blok ditangani tiga perusahaan existing, termasuk Lapindo Brantas. “Pemerintah mendapat jatah 53 persen pada bagi hasil minyak dan 48 persen pada gas,” kata Djoko. Sekretaris Jenderal Kementerian Energi, Ego Syahrial, memastikan perpanjangan kontrak murni untuk menjaga produksi migas nasional. Pasalnya, cadangan migas sempat tergerus karena minimnya eksplorasi. “Untuk wilayah kerja migas yang akan habis, pemerintah berkomitmen untuk cepat memproses,” kata dia.

Selain itu, kata dia, perpanjangan kontrak bertujuan memberi kepastian kepada para investor. Menurut Ego, masa jeda dua tahun yang dimiliki Lapindo hingga kontrak berakhir bisa dimanfaatkan untuk persiapan eksplorasi yang lebih baik. “lni semata-mata unsur komersial karena Lapindo bisa memberikan tawaran terbaik,” ujarnya.

Presiden Direktur Lapindo Brantas, Faruq Adi Nugroho, mengatakan perusahaannya berkomitmen untuk meningkatkan produksi Blok Brantas. Anak usaha Bakrie Group ini juga menargetkan peningkatan produksi hingga enam kali lipat sampai 2023 nanti, yaitu mencapai 150 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).

Saat ini, produksi harian gas di lokasi itu tak lebih dari 2025 MMSCFD. “Targetnya, akhir tahun ini bisa mencapai 30-35 MMSCFD,” kata Faruq. Dia mengungkapkan bahwa pihaknya mengucurkan dana hingga US$ 115 juta atau sekitar Rp 1,65 triliun untuk bisnis eksplorasi migas. Sebanyak 10 persen dari nilai investasi tersebut, atau sekitar Rp 165 miliar, dialokasikan sebagai jaminan pelaksanaan proyek Blok Brantas selama lima tahun ke depan.

Ada pula tambahan pembayaran bonus tanda tangan sebesar Rp 14,4 miliar untuk kelanjutan bisnis di Brantas. Faruq mengklaim kelanjutan kegiatan eksplorasi di Blok Brantas merupakan dukungan dari masyarakat lokal Sidoarjo. “Hampir tidak ada kendala.