Lahan Rawa Lumbung Pangan Masa Depan Bagian 3

Priatna Sasmita, Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) mengatakan, varietas unggul adalah salah satu teknologi andalan menjawab tantangan optimalisasi produksi padi di lahan rawa. Kementan telah melepas berbagai varietas unggul baru adaptif untuk ekosistem rawa yang dikenal varietas Inbrida Padi Rawa (Inpara). Selain adaptif, varietas tersebut juga memiliki potensi hasil tinggi di atas 6 ton/ha. Varietas tersebut seperti yang ditanam di lokasi Hari Pangan Sedunia, yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8, dan Inpara 9.

“Integrasi penggunaan teknologi varietas unggul dengan budidaya dan pengelolaan air optimal merupakan strategi tepat dalam mendongkrak kenaikan produksi padi di lahan rawa,” jelas Priatna. Inovasi Teknologi Setelah varietas toleran, Dedi melanjutkan, inovasi yang harus diterapkan adalah mengelola air dan tanah, ameliorasi, pemupukan, pengen dalian organisme pengganggu tumbuhan, dan pembangunan kelembagaan. Air diatur dengan aliran satu arah dan menerapkan desain pintu air seperti tabat, stoplog, flapgate.

Aliran satu arah berfungsi mencuci racun yang terkandung dalam tanah. Ada dua sistem pengelolaan air, yaitu sistem handil (tatah) dan tabat (dam overflow). Handil dibuat menjorok masuk dari pinggir sungai sejauh 2-3 km dengan kedalaman 0,5-1,0 m dan lebar 2-3 m. sistem tabat bertujuan memudahkan pengolahan lahan dan penanaman. Dengan mengelola air, ulas Dedi, IP menjadi 200-300 berupa padi-padi atau padi-padi-kedelai. “Produktivitas padi meningkat 30%, bisa 6-7 ton GKG/ha,” terangnya. Penataan tanah dengan pembuatan sawah, lahan kering, dan surjan (kombinasi sawah dan kering).

Lahan lebak dangkal dapat diolah menjadi sawah; surjan; dan tukungan, lebak tengahan berupa sawah dan tukungan, sedangkan lebak dalam dibiarkan alami. Sistem surjan akan menghasilkan diversifikasi produksi berupa padi dan tanaman hortikultura seperti jeruk, buah naga, atau cabai. Sistem ini juga mengurangi risiko gagal panen, menaikkan intensitas penggunaan lahan, serta meningkatkan efisiensi usaha tani dan pendapatan.

Ameliorasi berupa pengapuran, penggu naan bahan organik, dan biochar. Pemupukan berimbang menggunakan urea, SP-36, KCl, NPK, rock phosphate, amelioran, serta pupuk hayati. Dosis ameliorasi-pemupukan untuk lahan potensial adalah (45-90) N, (22,5-45) P, dan 45 K serta lahan sulfat masam (67,5- 135) N, (45-70 P), (45-75 K), dan (1500- 3000) Ca.