Lahan Rawa Lumbung Pangan Masa Depan Bagian 2

Dari 77 ribu ha lahan rawa potensial tersedia di Kab. Siak, Riau, hanya 21 ribu ha yang bisa dikelola karena sisanya sudah memiliki izin usaha. Di Kab. Kubu Raya, Kalsel ada 55 ribu ha lahan rawa potensial tersedia tapi yang belum memiliki izin usaha tinggal 9 ribu ha. Apalagi lahan rawa punya banyak keunggulan. Yakni, tersedia air, keanekaragamannya tinggi dan eksotis, pemulihan terhadap risiko kegagalan cenderung cepat, biaya pengembangan murah dan multifungsi, lebih tahan perubahan iklim, hasil biji-bijian dan rimpang lebih kaya Se dan Fe, serta gejolak sosial pengem bangan rendah.

Di samping itu, pemerintah dan masyarakat memiliki ilmu pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk pengembangan secara berkelanjutan. Pertanaman padi rawa berkembang pesat di Sumsel dan Kalsel. Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalsel contohnya, memiliki daerah pasang surut seluas 3.000 ha dengan rerata produktivitas padi sawah 3,3 ton/ha dan indeks pertanaman (IP) 100. Saat ini, ungkap Dedi, lahan tanam rawa baku mencapai 1 juta ha dengan produktivitas 3,5 ton/ha dan IP 120. Jadi, produksi padi lahan rawa mencapai 4,2 juta GKG.

Menilik potensinya yang begitu besar, Kementan pun mencanangkan optimasi sejuta ha lahan rawa di 9 provinsi, termasuk Kalsel seluas 67 ribu ha. Tipologi dan Kendala Tipologi lahan rawa pasang-surut bersifat sulfat masam, pH rendah, memiliki lapisan pirit (FeS2), kekurangan hara, dan produktivitasnya rendah. Sementara lahan rawa lebak terbagi atas lebak dangkal (tergenang <50 cm), lebak tengahan (50-100 cm), dan lebak dalam (>100 cm). Kesuburan rawa lebak termasuk sedang dan ada limpahan hara dari luapan sungai. Pengembangan lahan rawa menghadapi kendala.

Di antaranya, kendala fisikokimia berupa pH tanah dan air rendah, keracunan Al dan Fe, kesuburan rendah, dan fluktuasi air atau banjir. Selain itu, kendala pengelolaan air dan lahan berupa fluktuasi air, kemasaman, dan unsur toksik (racun). Dedi menjelaskan, pengaruh air pada tanah sulfat masam berbeda-beda. Muka air tanah yang turun mengakibatkan pirit teroksidasi sehingga tanah keracunan Al dan bersifat sangat masam.

“Tidak ada tanaman yang bisa hidup,” ucapnya. Air yang tidak bergerak menyebabkan tanah reduktif sehingga akan keracunan besi (Fe). Sedangkan air yang stagnan lama berakibat tanah sangat reduktif hingga terbentuk gas metana. Untuk menghadapi kendala fisik tersebut kuncinya mengembangkan tanaman toleran, yaitu tahan genangan, tahan masam, dan tahan keracunan besi.