Genset Sebagai Pembangkit Listrik Cadangan di Terminal Teluk Lamong

Genset Sebagai Pembangkit Listrik Cadangan

Genset Sebagai Pembangkit Listrik Cadangan – Husein mengatakan, di Jatim hingga saat ini kelebihan listrik sekitar 4.500 MW. Dalam kontek seperti, rasanya Pelindo III tidak perlu membuat pembangkit. Hanya saja, ternyata PLN mempunyai masalah beban puncak, yakni pada pukul 17.00 sampai 23.00. Bila kita lihat, pertumbuhan kebutuhan listrik pada 2013 di kawasan jaringan listrik Jawa-Bali mencapai 8% dan menurun bila dibandingkan 2012 mencapai lebih dari 10%. Untuk sistem jaringan listrik Jawa-Bali pertumbuhan tahun lalu tinggi sehingga ada tambahan beban puncak lebih dari 1.500 MW. Sedangkan sekarang beban puncak sudah mencapai 21.500 MW.

Inilah yang menjadi pemikiran kami. Saat beban puncak itulah tidak menutup kemungkinan ada persoalan suplai. Karena itu, kita sedang mengkaji untuk membuat pembangkit sendiri dengan menggunakan bahan gas. Ya jaga-jagalah. Disamping kita terus berusaha untuk menggunakan energi bersih,” katanya. Meski demikian, pihaknya terus berkomunikasi dengan PT PLN dan Pertamina dalam rangka rencana membangun pembangkit listrik berbahan gas itu. Semua itu sudah ada aturannya. Apakah nanti kalau Pelindo III membangun pembangkit sendiri masuk ke program PLN Individual Power Plant (IPP) atau bagaimana. Yang jelas, kami akan mengikuti aturan main yang ada. Sekali lagi dalam rencana pembangunan pembangkit listrik ini, pihaknya jangan sampai menyalahi prosedur. Karena kami ingin semuanya berjalan pada jalurnya, kata Husein.

Kalau suplai gasnya bagaimana? Kalau ketersediaan gas di Jatim tak ada masalah. Apalagi propinsi ini kebelihan gas, sehingga kalau bicara bahan bakunya tak ada persoalan. Yang menjadi pertanyaan, ada tidak jaringan pipa yang mengalir melewati jalur Terminal Teluk Lamong? Meski demikian, pihaknya akan melakukan pembicaraan dengan Pertamina dalam hal ini Pertamina Gas (Pertagas) dan PT PLN. Saya yakin pihak Pertamina akan mewujudkan mimpi kita itu. Apalagi, sekarang eranya kan sudah gas, katanya.

Dia yakin program tersebut akan mendapat dukungan dari Pertamina dan PLN meski investasinya tidak sedikit. Investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan pembangkit itu memang mahal. Untuk menghasilkan 1 MW saja dibutuhkan dana sekitar 1 juta dollar AS. Yang perlu dicatat, Pelindo III akan lebih dini menggunakan energi bersih. Jadi, taruhlah pembangkit itu menghasilkan 50 MW, gas yang dibutuhkan sekitar 812 mmscfd. Nantinya listrik berbahan bakar gas itu, mungkin saja tidak hanya untuk kebutuhan Pelindo III, tetapi saat-saat tertentu bisa menyuplai PLN. Dengan demikian, keberadaannya benar-benar bermanfaat.

Tidak hanya di lingkungan pelabuhan, di lingkungan transportasi pun Pelindo III akan mengarah kepada go green. Nantinya, truk yang keluar masuk Teluk Lamong yang jumlahnya sekitar 1.000 per hari per harinya akan menggunakan CNG sebagai bahan bakar. Untuk ini, Pelindo III akan melakukan pembicaraan dengan lembaga- lembaga terkait dalam masalah ini. Setidaknya dengan Organda. Intinya bagaimana program ini sukses dan didukung oleh pengusaha angkutan. Terutama sosialisasi penggunaan gas itu sendiri hingga penyediaan SPBG-nya, katanya.

Kendati demikian, meski suplai bahan baku tergolong aman, pihak pengelola terminal Teluk Lamong tetap menyiapkan unit genset diesel besar sebagai langkah antisipasi ketika PLN mengalami beban puncak sehingga tidak mampu menyuplai kebutuhan listrik di terminal tersebut. Anggaran yang disediakan untuk pembelian genset dari Palembang berkisar 250 juta, sehingga pihak pengelola akan mencari harga genset diesel di Palembang yang kurang dari dana anggaran.