Fosfat Alam Reaktif Tingkatkan Produktivitas Kelapa Sawit

Di Lahan sawah untuk pertanaman padi, SP 36 dibutuhkan karena bersifat fast release (rilis cepat). Sebaliknya, kebun kelapa sawit di lahan masam atau gambut membutuhkan pupuk fosfat yang bersifat slow release (rilis lambat). Sejak 2015, Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Balitbangtan Kementan bekerjasama dengan PT Sari Lembah Subur (SLS) dalam penelitian aplikasi fosfat alam reaktif untuk perkebunan kelapa sawit di lahan gambut.

Tahun ini, hasil penelitian di lahan kebun kelapa sawit seluas 10 ha itu sudah mulai terlihat. “Dari hasil penelitian sebelumnya, produksi tandan buah segar meningkat – kan 15%,” jelas Husnain, Kepala Balittanah di Pekanbaru, Riau (18/9). Selain itu, perusahaan bisa menghemat hingga Rp600 ribu/ha/tahun.

JAPFA Berdayakan Peternak Sapi Lokal

PT JAPFA COMFEED INDONESIA TBK (JAPFA) melalui anak perusahaannya PT Santosa Agrindo (Santori) menandata – ngani perjanjian kerja sama dengan bank BCA, BPR Karya Persada Sejahtera, dan PT Digdaya Persada Makmur di Probolinggo, Jawa Timur (12/9).

Kerja sama ini ditujukan untuk memberdayakan ekonomi peternak lokal di Probolinggo. PT Digdaya Persada Makmur akan ber – tindak sebagai pendamping dan penyedia lahan bagi para peternak. Untuk pembiayaannya, Bank BCA akan menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) dengan nilai Rp30 miliar kepada peternak melalui BPR.

“Kemitraan saling menguntungkan ini merupakan program berkelanjutan sesuai dengan nilai perusahaan untuk berkembang menuju kesejahteraan bersama,” jelas Kasno Soewondo, Head of Cattle Fattening PT Santori. Dengan program kemitraan ini, peternak berpotensi mendapatkan penghasilan rata-rata Rp2 juta/bulan bila mengambil KUR program senilai Rp200 juta atau Rp500 ribu/bulan untuk KUR mikro senilai Rp25 juta.